
- 2026-08-20 10:57:36
Bacaan : Galatia 3:1-14
Ketika seorang petani membajak sawah, mengolah lahan, dan menabur benih, apakah ia mampu menumbuhkan benih itu? Ia bisa membajak dan menanam, tetapi ia tidak bisa memaksa benih itu tumbuh. Pertumbuhan hanya datang dari Tuhan. Ketika kita merenungkan kenyataan ini dalam hidup keimanan kita, muncul satu pertanyaan penting: siapa yang memberi pertumbuhan rohani kita-hasil usaha atau buah iman?
Paulus dengan keras menegur jemaat Galatia, yang memulai kehidupan kerohaniannya dengan iman, tetapi kemudian beralih kepada usaha berbuat taat kepada hukum (Taurat). Ia bertanya: Apakah kamu menerima Roh karena melakukan hukum Taurat, atau karena percaya kepada Injil? (1-5). Ia kemudian beranjak menggunakan Abraham-bapa orang beriman-sebagai contoh. Abraham dibenarkan karena percaya (iman), bukan karena melakukan hukum (6-9). Paulus kemudian memperingatkan bahwa siapa pun yang mengandalkan diri pada hukum sesungguhnya berada di bawah kutuk, karena tidak ada seorang pun yang bisa menaati hukum Taurat secara sempurna (10-12). Dan inilah kabar baik yang sejati bagi kita: Kristus menebus kita dari kutuk itu dengan menjadi kutuk bagi kita (13). Karenanya, melalui iman, bangsa-bangsa non-Yahudi pun menerima berkat Abraham dan Roh Kudus yang dijanjikan (14).
Kebenaran tidak bisa diusahakan. Usaha agama tanpa iman justru akan mengikat kita dalam kutuk, karena para pengikutnya akan menganggap bahwa mereka sudah berhasil membuat Allah puas. Tetapi, bagaimana mereka bisa tahu dan yakin bahwa Allah sungguh puas dan berkenan kepada perbuatan saleh mereka? Di sinilah hakikat tipuan kesalehan itu. Iman sejati kepada Kristus sungguh membebaskan kita dan memberi kita hidup.
Apakah Anda hidup dalam kelelahan rohani karena iman Anda tidak sepenuhnya bersandar pada Kristus? Beristirahatlah dalam karya Kristus yang sudah genap dan tuntas. Biarkan hidup Anda menjadi buah iman, bukan oleh hasil usaha sendiri, melainkan, hasil dari karya Allah.
